Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas, namun permasalahan putus sekolah masih menjadi tantangan serius, terutama di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini membandingkan tiga aplikasi data mining, yaitu RapidMiner, Orange, dan Weka, dalam mengelompokkan siswa putus sekolah menggunakan algoritma K-Means. Data yang digunakan diperoleh dari berbagai sumber dan diproses melalui tahapan pengujian, penerapan algoritma K-Means, serta perbandingan hasil klasterisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RapidMiner memiliki akurasi tertinggi sebesar 86%, diikuti oleh Orange dengan 80%, dan Weka dengan 73%. Perbedaan akurasi ini menunjukkan bahwa setiap aplikasi memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing dalam pemrosesan data dan pengelompokan siswa berdasarkan pola tertentu. Dari hasil perbandingan ini, RapidMiner terbukti lebih optimal dalam menghasilkan klaster yang lebih akurat dan stabil dibandingkan dengan dua aplikasi lainnya. Meskipun penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan, masih terdapat beberapa keterbatasan, seperti jumlah dataset yang terbatas dan penggunaan satu algoritma saja (K-Means). Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan dataset yang lebih besar dan beragam, serta mengeksplorasi algoritma lain, seperti DBSCAN atau Hierarchical Clustering, untuk meningkatkan kualitas analisis. Selain itu, integrasi teknik machine learning yang lebih kompleks juga direkomendasikan guna meningkatkan akurasi prediksi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu lembaga pendidikan dalam mengidentifikasi pola siswa berisiko putus sekolah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan strategi intervensi pendidikan yang lebih efektif. Kata Kunci: Data Mining; K-Means, Klasterisasi; RapidMiner; Orange; Weka; Siswa Putus Sekolah.
Copyrights © 2025