Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) saat ini menggencarkan penggunaan kontrasepsi modern dan penurunan angka kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) sebagai upaya meminimalisir penyebab tingginya AKI di Indonesia, yaitu “4 terlalu” terlalu muda, terlalu banyak, terlalu dekat, dan terlalu tua. Berdasarkan laporan kinerja BKKBN ditemukan bahwa target prevalensi penggunaan kontrasepsi modern dan target persentase unmet need tidak tercapai. Menurut Bandura, self-efficacy dapat memengaruhi pilihan seseorang terhadap lingkungan yang berkaitan dengan perilaku, dalam hal ini penggunaan kontrasepsi. Perceived self-efficacy berpengaruh pada seberapa besar usaha yang akan dikeluarkan seseorang dalam mengerjakan sesuatu dan seberapa gigih seseorang ketika berhadapan dengan rintangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perceived self-efficacy penggunaan kontrasepsi pada wanita pasangan usia subur di Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh 260 responden. Variabel yang diteliti adalah pendidikan, pengetahuan kontrasepsi, persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan perceived self-efficacy. Data dianalisis menggunakan uji spearman rho. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan (p=0,026), pengetahuan kontrasepsi (p=0,003), dan persepsi manfaat (p=0,000) berhubungan berbanding lurus dengan perceived self-efficacy. Sedangkan persepsi hambatan (p=0,000) berhubungan berbanding terbalik dengan perceived self-efficacy. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendidikan, pengetahuan kontrasepsi, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan berhubungan dengan perceived self-efficacy dan persepsi manfaat merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan perceived self-efficacy.
Copyrights © 2025