Latar Belakang : Tuberculosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh mycrobacterium tuberculosis. Tuberculosis dapat menyebabkan permasalahan yakni mengi, batuk, penumpukan sputum yang belebih dan sesak nafas. Pemberian terapi nebulizer dan breathing exercise salah satunya yaitu untuk mengurangi permasalahan yang disebabkan karena tuberculosis. Nebulizer sebagai bronkodilator dapat mengencerkan lender dan mengurangi sesak nafas, serta breathing exercise dapat meningkatkan fungsi paru dan menjaga otot-otot pernafasan tetap bekerja. Metode : Penelitian ini menggunakan case study dengan single subject research. Dilakukan pada pasien Tn P berusia 55 tahun dengan pekerjaan sebagai petani datang ke IGD RSUD Dungus Madiun sejak 22 Oktober 2024 dengan keluhan sesak nafas, batuk berdahak, lemas , dan tidak nafsu makan dengan BP : 130/90 mmHg ,SpO2 : 95% (terpasang nasal kanul lpm 5), RR : 30 X/menit, HR : 98 x/menit, kemudian dilakukan intervensi dan dievaluasi sebanyak 5 kali. Hasil : Terapi nebulizer dan breathing exercise (breathing control, pursed lip breathing, deep breathing, dan mobilisasi sangkar thorak) diberikan 3 kali sehari dapat meningkatkan ekspansi sangkar thorak dan mengurangi sesak nafas. Kesimpulan : Pemberian intervensi nebulizer dan breathing exercise dapat mengurangi sesak nafas pada pasien. Sesi fisioterapi dan observasi perlu dilakukan lebih lama agar dapat diketahui perkembangan dalam jangka panjang.
Copyrights © 2025