Postmodernisme merupakan arus pemikiran yang muncul sebagai respons terhadap modernisme, menekankan pluralitas, relativitas kebenaran, serta kritik terhadap narasi besar yang dianggap hegemonik. Dalam konteks Islam, postmodernisme menghadirkan tantangan terkait otoritas wahyu, nilai-nilai absolut, serta respons umat Islam terhadap relativisme dan pluralitas pemikiran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research, mengumpulkan data dari literatur utama dan sekunder, termasuk buku, artikel jurnal, dan penelitian akademik. Analisis dilakukan dengan menelaah konsep-konsep utama postmodernisme, seperti kritik terhadap universalitas kebenaran dan dominasi rasionalitas, serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam, seperti tauhid, wahyu, dan akhlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postmodernisme, dengan penolakannya terhadap kebenaran tunggal dan objektivitas mutlak, membuka ruang bagi kebebasan berpikir dan interpretasi yang lebih luas, namun juga membawa risiko relativisme yang dapat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam konteks media massa, postmodernisme berkontribusi pada fenomena hiperrealitas, di mana informasi dan citra yang disajikan sering kali lebih dominan daripada kenyataan, sehingga membentuk opini publik yang tidak selalu berbasis fakta. Islam, dengan keseimbangan antara rasionalitas dan wahyu, menawarkan pendekatan yang dapat merespons tantangan ini dengan mengedepankan integrasi antara ilmu, iman, dan amal. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa meskipun postmodernisme dapat memberikan kontribusi bagi keterbukaan intelektual, diperlukan sikap kritis dan selektif dalam mengadopsi gagasannya agar tidak mengorbankan prinsip-prinsip fundamental Islam. Dengan demikian, postmodernisme dan Islam dapat dikaji secara konstruktif untuk memperkaya diskursus intelektual tanpa kehilangan esensi ajaran agama.
Copyrights © 2025