Kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam cara berinteraksi dan memahami budaya. Bagi generasi Z, teknologi menawarkan kemudahan akses informasi dan komunikasi, namun juga menimbulkan dampak negatif berupa penurunan minat terhadap nilai-nilai budaya dan sosial. Gaya hidup individualistik dan dominasi budaya asing melalui media sosial mengakibatkan generasi muda semakin jauh dari akar budaya lokal. Artikel ini membahas fenomena tersebut dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, serta menyoroti pentingnya pelestarian budaya di tengah arus globalisasi. Dengan mengacu pada pandangan Koentjaraningrat dan Hamelink, artikel ini menekankan pentingnya pendidikan budaya melalui culture experience dan culture knowledge sebagai strategi untuk memperkuat identitas nasional. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pelestarian budaya memerlukan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan agar generasi muda tetap memiliki keterikatan emosional dan intelektual terhadap budaya bangsanya.
Copyrights © 2023