Perkembangan teknologi yang pesat, membuat generasi muda berlomba-lomba untuk menunjukkan dirinya di media social, khususnya youtube, yang saat ini menjadi ajang untuk mencitrakan diri. Sebut saja youtubers Atta Halilintar, Ria Ricis, Bayu Skak, Boy William dan masih banyak youtubers lainnya yang menjadikan media social youtube tidak hanya sebuah media ajang menyuguhkan konten Video blog atau Vlog, namun juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dengan teknik pengambilan gambar atau videografi ‘amatiran’, namun konten yang disajikan para youtubers ini mendapatkan tempat tersendiri bagi para penikmatnya. Tentu, konten youtube yang disajikan jika hanya video biasa, hanya sekadar rekaman percakapan atau bahkan kegiatan sehari-hari para pemilik konten, maka tidak akan menjadikan konten tersebut istimewa. Namun, jika tidak ada tambahan sound dan efek animasi, maka konten youtube tidak akan menjadi ‘bombastis’. Pemilihan sound dan efek dalam tiap konten yang disajikan para youtubers ini ternyata tidak hanya mampu menarik para penontonnya saja, bahkan hingga penonton bersedia memberikan ‘like and subscribe’ dalam konten yang disediakan tersebut. Yang mana, dalam tiap like and subscribe tersebut memberikan arti tersendiri bagi para youtubers, tidak hanya kepopuleran, bahkan hingga meraup untung ratusan juta rupiah. Maraknya vlog di media social, menjadi hal yang menarik untuk diteliti dengan menggunakan teori “Semiotika Komunikasi” dengan pendekatan Semiotik Analitik atau semiotika yang menganalisis sistem tanda dan lambang yang mengacu pada obyek tertentu. Serta dengan menggunakan Semiotik Deskriptif atau semiotika yang memperlihatkan sistem tanda yang dapat dialami maupun disaksikan seperti sekarang
Copyrights © 2020