Sutra yang diproduksi dengan teknik ATM (Alat Tenun Mesin) memiliki struktur serat yang lebih seragam dan konsisten karena proses mekanis. Sebaliknya, kain sutra ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang dihasilkan cenderung memiliki tekstur dan ketidaksempurnaan kerapatan serat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi larutan asam sulfat (H₂SO₄) terhadap kualitas pewarnaan kain sutra menggunakan zat warna asam pada dua jenis kain, yaitu kain sutra ATBM dan kain sutra ATM. Uji kelunturan warna terhadap pencucian sabun (nilai kelunturan dan penodaan), gosokan kering, dan gosokan basah dilakukan untuk mengevaluasi daya tahan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam sulfat yang berbeda (4 cc/l, 6 cc/l, 8 cc/l, dan 10 cc/l) tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap daya tahan warna kedua jenis kain, yang tetap berada pada skala 4–5. Namun, kain sutra ATBM menghasilkan warna yang lebih gelap dibandingkan kain sutra ATM, meskipun menggunakan resep pencelupan yang sama. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur serat, teknik pembuatan kain sutra, dan jenis bahan baku pembuatan kain sutra. Kesimpulannya, struktur kain dan teknik pembuatan kain berperan penting dalam menentukan intensitas warna. Temuan ini memberikan wawasan dalam meningkatkan kualitas pewarnaan kain sutra sebagai produk tekstil unggulan.
Copyrights © 2025