Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana penerapan empat fungsi manajemen dakwah dalam tradisi Ngejot dapat memperkuat nilai dakwah di masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi tersebut sebagai warisan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perencanaan dakwah dalam tradisi Ngejot di Desa Lenek Pesiraman terdiri dari empat tahapan utama: 1) Takhtith (Perencanaan): Musyawarah untuk menentukan tempat, waktu, acara, dan perlengkapan. 2) Thanzim (Pengorganisasian): Pembentukan panitia, terutama pemuda desa, dengan pembagian tugas. 3) Tawjih (Pelaksanaan): Tradisi Ngejot dilakukan sebelum Idul Fitri, dimulai dengan pengumpulan masyarakat, sambutan, doa bersama, dan berbagi makanan. 4) Tiqobah (Evaluasi): Evaluasi pasca-acara untuk melihat kelancaran dan perbaikan di masa depan, serta dokumentasi untuk pelestarian. Upaya melestarikan tradisi Ngejot di Desa Lenek Pesiraman melibatkan partisipasi tinggi dari masyarakat, baik tua maupun muda. Generasi muda terlibat aktif dalam kegiatan pembuatan bingkisan, kepanitiaan, dan revitalisasi tradisi, yang sangat penting untuk kelestarian tradisi tersebut. Beberapa cara untuk melibatkan generasi muda antara lain melalui media digital untuk sosialisasi, kompetisi, penghargaan, kolaborasi dengan komunitas pemuda, dan pendekatan yang menggabungkan elemen tradisional dan modern. Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, diharapkan tradisi Ngejot tetap lestari dan berkembang di masa depan, didorong oleh peran generasi muda sebagai pelestari budaya.
Copyrights © 2025