Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit metabolik sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya disfungsi sel beta pankreas atau karena ambilan glukosa di jaringan perifer. Secara global prevalensi diabetes bertambah setiap waktu dan bahkan Indonesia menduduki peringkat 7 dunia penderita diabetes. Intervensi umum yang diberikan dalam penatalaksanaan pasien diabetes yaitu pemberian terapi farmakologi berupa pemberian antidiabetik tunggal atau kombinasi. Parameter yang menjadi target dalam terapi tersebut yaitu terjadinya normoglikemia. Rekomendasi parameter kontrol glikemik dari berbagai organisasi profesional dunia yaitu pemeriksaan HbA1c. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar HbA1c terhadap jenis terapi tunggal (monoterapi) dan kombinasi pada pasien DM tipe 2. Desain penelitian yaitu analitik non-experimental dengan pendekatan cross-sectional. Hubungan antara variabel dianalisis menggunakan independent sample T test. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 28 pasien. Hasil penelitian didapatkan data riwayat diabetes paling tinggi pada pasien dengan lama menderita > 5 tahun (60,7%), memiliki komplikasi penyakit (64,3%), lama pengobatan > 5 tahun (57,1%), kontrol rutin (60,7%), tidak patuh pada pengobatan (85,7%), terapi tidak sesuai berdasarkan nilai kadar HbA1c (57,1%), tidak mencapai target terapi (78,6%), monoterapi (60,7%), kadar glukosa darah sewaktu tidak normal (53,6%), dan kadar HbA1c tidak normal (78,6%). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan secara statistik pada target terapi HbA1c terhadap monoterapi dan kombinasi dengan nilai p=0,637. Pada penelitian ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik karena adanya confounding factor yang tidak dikontrol yaitu tingkat kepatuhan, kesesuain terapi dan gaya hidup.
Copyrights © 2025