Pengendalian mutu merupakan salah faktor penting yang dapat memberikan informasi sebagai tolok ukur, apakah suatu pekerjaan sudah sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang perlu dikerjakan untuk mengetahui mutu agregat kelas A dan kelas B , yaitu Atterberg (pemeriksaan konsistensi tanah), analisa saringan, abrasi, percobaan pemadatan, CBR (California Bearing Ratio), dan pemeriksaan lapangan dengan metode sand cone test. Pengendalian mutu ini mengcu pada buku Spesifikasi Umum tahun 2018 (rev.2) yang diterbitkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jendral Bina Marga Repubik Indonesia. Sedangkan objek penelitian ini dilakukan pada pekerjaan jalan Simpang Pir – Bono Tapung,yaitu pada pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan lapis pondasi agregat kelas B sepanjang dari Sta 01+700 s/d sta 02 +083. Hasil yang diperoleh untuk material LPB, memperlihatkan semua titik berada pada nilai kadar air antara 5.0% s/d 5.50%, sesuai spesifikasi, kadar air berada pada rentang 3% dibawah kadar air optimum dan 1% diatas kadar air optimum yaitu antara rentang 3,3% - 7,3%. berat kering maksimum LPB, γd (lab) yang direncanakan 2,165 gc/cc dengan derajat kepadatan adalah 100%, hasil lapangan memberikan nilai kepadatan antara γd =101.15 gc/cc s/d 105.31 gc/cc.Unluk material LPA, ada 2 STA dengan kadar air diluar rentang kadar air 2,2% - 6,2%. yaitu STA 1+720 = 7%, STA 2+004 = 6,5%. Solusinya adalah dengan mengeringkan melalui sinar matahari dalam waktu tertentu maka kadar air lapangan akan turun sampai pada rentang yang disyaratkan. Berat kering maksimum LPA, γd (lab), direncanakan 2,197 gc/cc dengan derajat kepadatan adalah >=96%. Dari hasil lapangan memberikan nilai γd =96.22 gc/cc s/d 100.59 gc/cc.
Copyrights © 2025