erdasarkan temuan terkait persamaan tokoh dan penokohan pada novel Gadis Pantai dan Siti Nurbaya di atas, kesamaan paling nyata adalah dalam hal penderitaan perempuan akibat sistem sosial dan adat yang menindas. Baik Gadis Pantai maupun Siti Nurbaya menggambarkan sosok perempuan muda yang menjadi korban pernikahan paksa karena tekanan sosial dan ekonomi. Penderitaan mereka berawal dari keterpaksaan menikah dengan pria yang berstatus sosial lebih tinggi, yang dalam hal ini adalah Bendoro dan Datuk Maringgih. Abstract Based on the findings related to the similarities of characters and characterizations in the novels Gadis Pantai and Siti Nurbaya above, the most obvious similarity is in terms of women's suffering due to oppressive social systems and customs. Both Gadis Pantai and Siti Nurbaya depict young women who are victims of forced marriages due to social and economic pressures. Their suffering begins with being forced to marry men of higher social status, who in this case are Bendoro and Datuk Maringgih.
Copyrights © 2024