Gempa bumi sering terjadi di Indonesia akibat aktivitas tektonik di zona subduksi. Pada 10 April 2021, gempa berkekuatan 6,1 Mw mengguncang Kabupaten Blitar, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan perubahan topografi yang signifikan. Penelitian ini menganalisis deformasi permukaan akibat gempa tersebut menggunakan metode Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar (DInSAR) dengan data satelit Sentinel-1, yang memungkinkan pemantauan perubahan elevasi tanah secara akurat. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Blitar mengalami subsidensi dengan rentang deformasi antara -0,566 m hingga -0,357 m. Deformasi terbesar terdeteksi di daerah dengan litologi batuan vulkanik muda dan sedimen tidak terkonsolidasi yang rentan terhadap perubahan struktural akibat gempa. Jenis batuan dan kondisi tanah berperan dalam amplifikasi gelombang seismik dan risiko likuefaksi. Wilayah dengan batuan berpori tinggi mengalami pergeseran tanah lebih signifikan dibandingkan dengan daerah yang memiliki batuan lebih padat. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk mitigasi bencana dan perencanaan infrastruktur tahan gempa. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa metode DInSAR efektif dalam mendeteksi deformasi permukaan akibat aktivitas seismik dan dapat diterapkan dalam studi pemantauan risiko gempa di wilayah rawan bencana.
Copyrights © 2025