Pusat budaya dan literasi sejarah ponorogo yang berada di lahan bekas tambang kapur yang sudah rusak kemudian direspon dengan pendekatan regenerative design dan metode naratif. Hal ini bertujuan untuk menjadi suatu pemicu pengembangan kawasan dan peningkatan value lahan dengan mempertimbangkan semua masalah yang ada di tapak secara menyeluruh dan terdapat dalam suatu ekosistem. Melalui masterplan dengan sekuens bangunan, narasi cerita reyog digunakan untuk menghubungkan pengalaman ruang secara holistik. Perancang berusaha menciptakan pengalaman yang terhubung antara sekuens sehingga pengunjung dapat menikmati satu kesatuan desain. Dengan menggunakan narasi yang tepat, legenda reyog dapat menjadi sarana yang kuat untuk melestarikan budaya, menyampaikan nilai-nilai positif, dan menginspirasi orang untuk lebih menghargai dan mengenal warisan budaya mereka.
Copyrights © 2024