Umumnya, manusia bergantung pada penglihatan sebagai indera utama saat berinteraksi dengan bangunan. Namun, ketergantungan pada visual dapat mengurangi kedalaman interaksi, pengalaman, dan sensasi pengguna dalam merasakan ruang. Dalam hal ini, konsep perancangan mengeksplorasi bagaimana arsitektur dapat dirasakan tanpa mengandalkan penglihatan. Keberadaan sekelompok individu dengan keterbatasan penglihatan, seperti penyandang tunanetra, menjadikan perancangan ini lebih berfokus pada fasilitasi pengalaman berwisata bagi mereka serta individu lain yang menghadapi keterbatasan serupa. Di samping itu, pengintegrasian elemen sensorik membuka perspektif baru mengenai keindahan, fungsi, dan makna arsitektur, sehingga mempermudah pengguna memahami ruang dan keberadaan secara holistik. Pendekatan ini mengatasi keterbatasan yang ada serta memperdalam hubungan antara tubuh, persepsi, dan ruang. Dengan cara ini, arsitektur mampu menjembatani aspek yang terlihat dan tidak, menciptakan simfoni pengalaman pariwisata inklusif yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Copyrights © 2025