Latar Belakang: Dispepsia adalah istilah yang umum digunakan untuk sindrom atau kumpulan gejala yang dimanifestasikan oleh rasa sakit atau ketidak nyamanan di daerah xifoideus, atau sensasi terbakar, mual, muntah, bersendawa, rasa penuh, dan perut terasa penuh. Dispepsia dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti gaya hidup dan stres. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup dan stres terhadap tingkat keparahan dispepsia. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional, jumlah populasi penelitian ini adalah 145 responden yang mengalami dispepsia dalam 5 bulan terakhir. Dan jumlah sampel sebanyak 59 responden yang diambil dengan menggunakan teknik rumus slovin. Hasil penelitian: Hasil penelitian terhadap 59 responden menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara gaya hidup dengan tingkat keparahan dispepsia dengan nilai statistik chi-square diperoleh nilai p-value = 0,001 dan terdapat hubungan antara stres dengan tingkat keparahan dispepsia dengan nilai statistik chi-square diperoleh nilai p-value = 0,004. Hal ini berarti secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup dan stres terhadap keparahan dispepsia. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara gaya hidup dan stres terhadap derajat keparahan dispepsia di RSUD Tora Belo Kabupaten Sigi. Saran: Bagi pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Tora Belo, Kabupaten Sigi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi mengenai pencegahan dispepsia dan cara mengelola stresor dengan baik. Diharapkan kepada seluruh responden untuk tetap menjaga pola hidup yang baik dan mampu mengelola stres dengan baik
Copyrights © 2025