Proses pekerjaan dalam suatu organisasi dapat berjalan dengan baik dan efektif apabila terdapat hubungan yang bersinergi antara organisasi, pimpinan dan karyawan. Namun seringkali hubungan tersebut tidak terjadi sehingga meningkatkan potensi tidak efektifnya proses pekerjaan dalam organisasi. Hal seperti ini sangat erat kaitannya dengan pola kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) dimana pimpinan akan menghargai dan mengapresiasi segala bentuk ide, pendapat, dan saran dari bawahan yang benar-benar paham terhadap alur proses kerja. Inclusive leadership merupakan gaya kepemimpinan yang melibatkan seluruh anggota tim dalam suatu pengambilan keputusan maupun perencanaan kebijakan dengan menekankan pada nilai keadilan dan apresiasi terhadap seluruh individu. Inclusive leadership akan menciptakan kepercayaan interpersonal yang akan menciptakan inovasi dan meningkatnya work engagement karyawan. Work engagement merupakan konsep yang memiliki fokus terhadap keterikatan karyawan terhadap organisasinya dimana pimpinan merupakan salah satu faktor utama untuk membentuk work engagement. Karyawan akan memiliki rasa terikat dengan organisasi salah satunya karena pimpinan yang selalu terbuka terhadap suatu ide. Work engagement akan terbentuk secara tidak seragam karena hal ini berkaitan erat dengan persepsi, nilai dan personal karyawan. Implikasi yang dapat dirasakan oleh organiasi dari work engagement secara langsung adalah peningkatan efektivitas pekerjaan dalam organisasi. Komunikasi yang dilakukan dari atasan kepada bawahan (top-down) dan dari bawahan kepada atasan (bottom-up) akan secara signifikan meningkatkan efektivitas pekerjaan sehingga pola kerja efektif dapat dibangun.
Copyrights © 2025