Kebakaran lahan sawit di Jambi telah menjadi masalah lingkungan yang berdampak signifikan terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Proses pembakaran yang terjadi hampir setiap tahun, terutama selama musim kemarau, menghasilkan polutan berbahaya seperti PM₂.₅ dan PM₁₀, yang dapat mempengaruhi kesehatan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jumlah titik panas kebakaran dengan konsentrasi polutan udara, serta untuk mengidentifikasi dampak kesehatan yang ditimbulkan. Data yang digunakan meliputi titik panas kebakaran dari Sipongi KLHK, kualitas udara dari BMKG Jambi, serta data meteorologi dan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran lahan sawit berhubungan langsung dengan peningkatan konsentrasi PM₂.₅ dan PM₁₀, yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan akut (ISPA) dan penyakit paru-paru lainnya. Peningkatan polusi udara ini sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, terutama suhu tinggi dan kelembaban rendah yang memperburuk kebakaran. Selain itu, implementasi kebijakan pengendalian kebakaran di Jambi masih kurang efektif, meskipun sudah ada regulasi mengenai larangan pembakaran terbuka. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih menyeluruh, pengelolaan lahan berkelanjutan, serta penguatan sistem pemantauan kualitas udara dan kesehatan. Mitigasi terhadap dampak kebakaran lahan sawit harus melibatkan kerjasama multisektoral antara pemerintah.
Copyrights © 2025