Starlink, layanan internet satelit dari SpaceX, mulai beroperasidi Indonesia pada 2024 untuk mengatasi kesenjangan digital di wilayah terpencil. Namun, kehadirannya menimbulkan tantangan seperti harga tinggi, potensi dampak terhadap penyedia lokal, dan masalah regulasi. Penelitian ini mengkaji sentimen publik terhadap Starlink menggunakan algoritma Naïve Bayes yang dikombinasikan dengan teknik TF-IDF dan Cross Validation yang masih jarang diterapkan dalam studi serupa di Indonesia. Data yang digunakan berupa cuitan berbahasa Indonesia dari pengguna platform X selama Mei-November 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa model Naïve Bayes memiliki kinerja optimal dalam mendeteksi sentimen positif dibandingkan negatif maupun netral, sebagaimana diukur menggunakan confusion matrix. Temuan utama menunjukkan bahwa Naïve Bayes 49,38% cuitan bersentimen positif, 32,94% netral, dan 17,68% negatif. Sentimen positif didominasi oleh apresiasi terhadap kecepatan dan stabilitas layanan, sedangkan sentimen negatif mengkritik harga tinggi dan dampaknya terhadap penyedia lokal. Meskipun model menunjukkan performa baik pada sentimen positif, akurasi klasifikasi sentimen negatif dan netral masih perlu ditingkatkan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan strategis bagi pengembangan bisnis Starlink serta dasar pertimbangan bagi pemerintah terkait layanan internet berbasis satelit di Indonesia.
Copyrights © 2025