Pewarnaan pada kain batik umunya menggunakan pewarna dengan bahan kiia atau sintesis, namun kini banyak menggunakan bahan baku dari alam. Zat warna alam merupakan hasil ekstraksi dari daun, batang, kulit, bunga, buah dan akar pada tumbuhan. Pada penelitian ini dilakukan upaya pengembangan zat warna alam dengan memanfaatkan sumber pewarna alami menggunakan kulit buah manggis. Hal ini dikarenakan kulit manggis mengandung sejumlah pigmen warna yang cocok untuk dijadikan pewarna alami, pigmen tersebut dapat diaplikasikan sebagai pewarna alami pada kain. Pewarna alami diambil dari ekstrak kulit buah manggis dengan fiksasi tawas, kapur, tanjung dan belimbing wuluh. Untuk mendapat zat warna dengan ketahanan luntur warna yang baik diperlukan proses fiksasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari bahan alami kulit manggis dengan metode eksperimental, dilakukan uji tahan luntur dengan cara dicuci menggunakan detergen serta uji terhadap sinar matahari dan panas menggunakan setrika. Ketahanan luntur warna dengan detergen, uji panas matahari dan uji panas setrika berbeda-beda, fiksasi tunjung menunjukkan ketahanan yang paling baik. Pewarna alami dari kulit manggis merupakan pewarna alternatif ramah lingkungan dibandingkan dengan pewarna sintesis.
Copyrights © 2025