This study aims to explain the history of the Serwai tribe's farming mantras in Renah Gajah Mati 1 Village from an ontological perspective. The research method used in this study is descriptive qualitative with an ethnographic approach. Data collection techniques in this study are interviews, observation, and documentation. Data analysis using a phenomenological hermeneutic approach. From the results of data collection, eight farming mantras were found in Renah Gajah Mati I Village, namely: (1) Jampi tughun sawah/mantra before starting the process of going to the rice fields, (2) Jampi pujung tigo ruang/, three types of punjung mantra (3) Jampi punjung tigo ragi/Three color tumpeng spell, (4) Jampi tughun kebun/before gardening mantra, (5) Jampi pianggang/ pest pianggang mantra, (6) Jampi asal pianggang/mantra origin of pest pianggang, (7) Jampi rancak/mantra pancang, and (8) Jampi nebang kayu/mantra for cutting down wood. From the eight mantras, the researcher then explains the HISTORI behind each mantra using an ontological perspective (what) on the assumptions of the community leaders involved. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan sejarah mantra bercocok tanam Suku Serwai yang ada di Desa Renah Gajah Mati 1 dalam perspektif ontologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dengan menggunakan pendekatan hermeneutik fenomenologis. Dari hasil pengumpulan data ditemukan delapan mantra bercocok tanam yang ada di Desa Renah Gajah Mati I yaitu: (1) Jampi tughun sawah/mantra sebelum memulai proses ke sawah; (2) Jampi pujung tigo ruang/mantra punjung tiga macam; (3) Jampi punjung tigo ragi/mantra tumpeng tiga warna; (4) Jampi tughun kebun/mantra sebelum berkebun; (5) Jampi pianggang/mantra hama pianggang; (6) Jampi asal pianggang/mantra asal mula hama pianggang; (7) Jampi rancak/mantra pancang; dan (8) Jampi nebang kayu/mantra menebang kayu. Dari delapan mantra tersebut kemudian peneliti memaparkan sejarah atau histori di balik setiap mantra dengan menggunakan perspektif ontologi (apa) pada asumsi tokoh masyarakat yang terlibat.
Copyrights © 2025