Perpustakaan yang sering dianggap sebagai tempat yang tenang dan sunyi, ternyata menyimpan dinamika interaksi yang kompleks. Di tengah tumpukan buku dan deretan rak, pustakawan berperan sebagai penjembatan antara informasi dan pengguna. Kemampuan komunikasi yang mumpuni menjadi kunci keberhasilan seorang pustakawan dalam memberikan layanan yang prima. Dengan komunikasi yang baik, pustakawan tidak hanya mampu menyampaikan informasi secara akurat, tetapi juga membangun hubungan yang positif dengan pengguna, menciptakan pengalaman perpustakaan yang tak terlupakan, serta mendorong minat baca yang lebih tinggi di kalangan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pengambilan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta menggunakan teknik purposive sampling dalam pencarian informan. Uji keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber, observasi partisipatif, dan member check. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa; 1) pustakawan memiliki urgensi kompetensi komunikasi, hal ini didasari belum adanya kemampuan beradaptasi dan belum memenuhi kriteria kejelasan atau kelayakan dalam memberi respon komunikasinya, 2) bentuk komunikasi pustakawan belum memenuhi kriteria kompeten karena belum adanya motivasi yang dijalankan serta belum menunjukkan adanya keterampilan dalam melakukan percakapan.
Copyrights © 2025