This study explores the informal management system of street vendors operating in Karang Menjangan Street, Surabaya. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with three active vendors and analyzed thematically. The findings reveal that the street vendors do not form any official community or association, primarily because they experience minimal external pressure, particularly the absence of relocation threats from local authorities. Instead, informal arrangements”such as payments for cleanliness, security, and electricity to the neighborhood association”have served as a substitute for formal organization. Despite the lack of an official community, strong social solidarity and healthy economic competition are present among the vendors. Communication remains effective, mostly occurring face-to-face. However, the study also highlights the exclusion of new or unregistered vendors, indicating the emergence of ingroup-outgroup dynamics. This research contributes to urban anthropology by showing how informal social networks can substitute formal organization, while also raising concerns about inclusivity in urban informal economies.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan informal pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Karang Menjangan, Kota Surabaya. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga PKL aktif dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para PKL tidak memiliki paguyuban resmi, yang diduga disebabkan oleh minimnya konflik dengan aparat pemerintah, khususnya ancaman relokasi. Sebagai gantinya, pembayaran rutin untuk kebersihan, keamanan, dan listrik kepada pihak RT telah menjadi bentuk pengakuan informal atas keberadaan mereka. Meski tanpa paguyuban, solidaritas sosial tetap kuat dan kompetisi ekonomi berlangsung sehat. Namun, ditemukan adanya eksklusi terhadap pedagang baru yang belum terintegrasi secara sosial, menciptakan dinamika ingroup-outgroup. Temuan ini menunjukkan bahwa jaringan sosial lokal dapat menggantikan peran struktur formal, sekaligus menggarisbawahi pentingnya inklusivitas dalam ekonomi informal perkotaan.
Copyrights © 2025