Sektor ekspor Indonesia saat ini sangat terkonsentrasi pada pasar China, dengan nilai ekspor mencapai sekitar 25–27% dari total ekspor nonmigas pada tahun 2023 . Ketergantungan ini, yang didominasi komoditas primer seperti batubara dan CPO, memang memanfaatkan economies of scale tetapi juga menimbulkan kerentanan tinggi ketika permintaan menurun atau harga dunia bergejolak . Sementara itu, kebijakan dagang proteksionis Amerika Serikat, termasuk rencana tarif 32% atas CPO dan produk elektronik Indonesia, menambah risiko eksternal . Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengkaji secara komprehensif ketergantungan ekspor Indonesia ke China dan dampak kebijakan dagang AS. Hasil kajian menunjukkan bahwa diversifikasi pasar dan produk, peningkatan nilai tambah industri (hilirisasi), serta integrasi dalam perjanjian dagang baru (seperti RCEP dan CPTPP) merupakan strategi kunci untuk mengurangi kerentanan ekonomi . Temuan ini menegaskan perlunya sinergi antara kebijakan pemerintah dan inisiatif korporasi (mis. strategi pasar ganda, inovasi produk) untuk memperkuat daya saing ekspor Indonesia di tengah persaingan global yang makin proteksionis.
Copyrights © 2025