Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ketika bakteri ini menginfeksi sistem saraf pusat, dapat terbentuk tuberkuloma serebral, yaitu massa granulomatosa berisi jaringan nekrotik di parenkim otak. Meskipun termasuk manifestasi ekstra paru yang jarang (1,4% kasus TB), tuberkuloma serebral memiliki gambaran luaran klinis yang berat, terutama pada kelompok berisiko seperti anak-anak, penderita HIV/AIDS, dan individu dengan imunosupresi. Penegakan diagnosis pada pasien sering terlambat karena memiliki gejala yang tidak khas, seperti nyeri kepala, kejang, atau defisit neurologis fokal yang menyerupai tumor otak. Pemeriksaan penunjang seperti MRI menunjukkan gambaran khas ring enhancement dengan edema perilesional, sedangkan analisis cairan serebrospinal (CSF) dapat menunjukkan pleositosis limfositik. Tata laksana utama berupa terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) kombinasi minimal 12 bulan, dengan isoniazid dan rifampicin. Corticosteroid digunakan untuk mengatasi respons paradoksal atau edema serebral. Intervensi bedah dipertimbangkan pada lesi yang berukuran di atas 2 cm yang dapat menyebabkan efek massa atau hidrosefalus. Prognosis bergantung pada kecepatan diagnosis dan ketepatan terapi, dengan angka kesembuhan mencapai 85% jika ditangani secara adekuat.
Copyrights © 2025