Studi ini bertujuan untuk mendekonstruksi bagaimana para aktor politik memanfaatkan logika digital untuk membingkai citra, membangun afiliasi, dan mengartikulasikan strategi elektoral melalui medium sosial yang tak lagi memisahkan antara domain personal dan publik, antara spontanitas dan rekayasa strategik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berparadigma interpretatif-konstruktivis, penelitian ini mengeksplorasi realitas komunikasi politik sebagai konstruksi intersubjektif yang diproduksi melalui simbol, wacana, dan relasi kuasa dalam ruang digital. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan kunci yang mewakili spektrum aktor digital lokal, observasi non-partisipatif terhadap interaksi media sosial kandidat, serta dokumentasi visual atas materi kampanye digital, yang kemudian dianalisis dengan kerangka analisis wacana kritis dan semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi digital dalam Pilkada Bima merupakan proses artikulatif yang tidak linier, melainkan berlangsung dalam arena diskursif yang dipenuhi negosiasi makna, simbolisme kultural, dan permainan identitas yang beresonansi dengan komunitas pemilih yang terfragmentasi. Media sosial berfungsi sebagai palimpsest politik tempat retorika populis, estetika kampanye, dan narasi lokal berkelindan membentuk realitas elektoral. Keberhasilan strategi politik digital tidak hanya ditentukan oleh kekuatan naratif dan teknis, tetapi oleh intensitas interaktivitas, sensitivitas kultural, dan kecakapan etis kandidat dalam mengelola medan simbolik yang kompleks
Copyrights © 2025