Abstrak. Media sosial memungkinkan siapa saja menyampaikan pesan keagamaan, termasuk akun anonim yang mengatasnamakan kelompok tertentu seperti Salafi. Artikel ini menganalisis narasi dua akun Instagram anonim, @medialurus dan @mesanhat, dalam menanggapi praktik Maulud Nabi, menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Pendekatan ini digunakan untuk memahami bagaimana teks, praktik diskursif, dan praksis sosial bekerja dalam membentuk opini publik tentang bidah. Hasil menunjukkan bahwa kedua akun tersebut membingkai Maulud Nabi sebagai tindakan bidah yang menyalahi syariat Islam versi Salafi, melalui takarir, audio tambahan, dan penekanan visual tertentu. Narasi yang dibangun bukan hanya menolak praktik keagamaan tertentu, tetapi juga mengonstruksi identitas keislaman yang eksklusif dan cenderung konfrontatif. Artikel ini menyoroti bagaimana media sosial digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan dengan potensi pembentukan makna baru yang memengaruhi persepsi publik secara masif. Abstract. Social media enables anyone to deliver religious messages, including anonymous accounts claiming to represent groups such as Salafis. This article analyzes the narratives of two anonymous Instagram accounts, @medialurus and @mesanhat, in responding to the celebration of the Prophet's birthday (Maulud Nabi), using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis. This approach explores how texts, discursive practices, and social practices shape public opinions on religious innovation (bid‘ah). The findings reveal that these accounts frame Maulud Nabi as a deviant practice contrary to Salafi interpretations of Islam, using captions, edited audio, and visual emphasis. The narratives not only reject specific religious traditions but also construct an exclusive and confrontational Islamic identity. This article highlights how social media is used to disseminate religious ideologies and reshape meanings, significantly influencing public perceptions. Such practices raise concerns over authority, authenticity, and the power dynamics embedded in digital religious communication.
Copyrights © 2025