Industri tekstil padat karya, khususnya sektor UKM batik, memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Batik Setya Laweyan, sebagai salah satu UKM yang bertahan, dikenal dengan motif khas dan teknik batiknya. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, permintaan terhadap motif khas menurun karena dominasi desain dari klien dengan segmen pasar terbatas pada kolektor dan pelajar seni. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dilakukan pengembangan motif berbasis ilustrasi yang disesuaikan dengan selera anak muda. Ilustrasi berperan memperkuat identitas visual batik, menjaga nilai budaya, serta meningkatkan daya tarik estetika. Proses perancangan mengacu pada teori S.P. Gustami yang menghasilkan enam alternatif desain, dan dipilih dua untuk diaplikasikan ke produk kemeja. Hasilnya, Batik Setya berhasil menciptakan motif baru yang lebih segar dan relevan sehingga dapat memperluas segmentasi pasar, menarik konsumen baru, serta meningkatkan daya saing di industri batik nasional. The labor-intensive textile industry, particularly the batik SME sector, plays an important role in the national economy. Batik Setya Laweyan, as one of the surviving SMEs, is known for its distinctive motifs and unique batik techniques. However, in recent times, demand for its signature motifs has declined due to the dominance of client-designed orders, with a limited market segment consisting of art collectors and art students. To reach a broader market, motif development based on illustrations tailored to youth preferences was carried out. Illustration serves to strengthen the visual identity of batik, preserve cultural values, and enhance its aesthetic appeal. The design process refers to S.P. Gustami's theory, resulting in six alternative designs, with two selected for shirt applications. As a result, Batik Setya successfully created fresher and more relevant motifs, enabling it to expand market segmentation, attract new consumers, and enhance its competitiveness in the national batik industry.
Copyrights © 2025