Artikel ini mengkaji bagaimana proses normalisasi dan penolakan terhadap LGBT dibentuk melalui wacana keagamaan di media sosial Indonesia. Dalam masyarakat yang religius dan digital, isu LGBT menjadi arena kontestasi kuasa simbolik antara kelompok konservatif dan progresif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis (CDA) dan kerangka teori rezim kebenaran Michel Foucault untuk membongkar konstruksi, penyebaran, dan pertahanan narasi keagamaan terkait identitas seksual. Data diperoleh dari konten media sosial, khususnya unggahan tokoh keagamaan dan komunitas religius, serta respons publik melalui komentar. Hasil penelitian menunjukkan dominasi narasi penolakan terhadap LGBT, sementara narasi inklusif masih mengalami resistensi dan marjinalisasi. Media sosial menjadi medan pertarungan wacana yang mencerminkan dinamika kuasa dalam masyarakat. Diperlukan kesadaran kritis dan ruang dialog terbuka agar media sosial dapat menjadi sarana edukasi, bukan sekadar reproduksi stigma dan eksklusi sosial.
Copyrights © 2025