Agar inti dan tujuan dakwah dapat sampai dengan baik kepada para pendengarnya, maka seorang pendakwah perlu menggunakan teknik yang sesuai dengan karakteristik pendengarnya. Artikel ini membahas bagaimana kreatifitas dai dalam mengemas pesan ayat al-Quran dengan teknik humor dalam dakwah. Peneliti selanjutnya berupaya menganalisa posisi dan fungsi model dakwah humoris dalam kontestasi model-model dakwah di Indonesia yang beragam. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan metode analisis Inductive Category Development (ICD) yang digagas oleh Philipp Mayring. Sumber primer penelitian ini berasal dari video-video Ning Umi Laila di YouTube, khususnya pada channel YouTube Ning Umi Laila. Temuan penelitian ini yaitu 1) Upaya dai dalam mengemas pesan ayat al-Quran dalam bentuk humor merupakan kecerdasan-kreatifitas dakwah dalam upaya mencari titik temu antara sumber materi dakwah yang formal dengan sasaran dakwah yang beragam dan dinamis. Materi dakwah berupa pesan ayat Al-Qur’an sering kali dikemas oleh Laila secara implisit-humoris untuk memberikan kesan dakwah yang ringan dan santai 2). Posisi dan fungsi dakwah humoris menempati posisi yang strategis dan efektif, karena: a) mampu mengakomodasi aspek entertain dalam dakwah, yang dalam hal ini penulis istilahkan sebagai entertain cum dakwah; b) menjadi alternatif bagi dakwah yang keras, kaku, dan cenderung radikal serta ekstrem; c). Dakwah humoris menjadi dakwah yang lebih humanis dan mampu mangakomodir kearifan lokal serta budaya Indonesia.
Copyrights © 2025