Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan pelaku UMKM dalam menggunakan Quick Response Indonesian Standart (QRIS) sebagai alat pembayaran digital, pendekatan Technology Readiness Index (TRI) digunakan untuk mengukur yang empat dimensi: optimism, innovativeness, discomfort, dan insecurity. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi langsung terhadap pelaku UMKM di kawasan Wisata Religi Sunan Bonang Tuban. Dari delapan informan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 59,38% pelaku UMKM menunjukkan sikap optimis dan 37,13% inovatif dalam mengadopsi QRIS. Namun dari ke empat dimensi, sebesar 61,88% discomfort dan 58% insecurity menjadi faktor utama yang menghambat kesiapan terhadap penggunaan QRIS. Hal ini dikarenakan masih banyak yang merasa tidak nyaman dan ragu terhadap keandalan sistem, terutama karena keterbatasan pemahaman dan kekhawatiran terhadap gangguan teknis. Rata-rata tingkat kesiapan hanya mencapai 44,11% yang mencerminkan bahwa pemanfaatan teknologi digital masih tergolong rendah. Oleh karena itu, dibutuhkan pelatihan, edukasi literasi digital, dan pendampingan teknis secara berkelanjutan. Dukungan dari berbagai pihaktek sangat diperlukan untuk mendorong penggunaan QRIS secara optimal dalam mendukung transformasi digital UMKM.
Copyrights © 2025