Abstrak:Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab sebagai alat komunikasi yang kaya akan makna dan kosa kata, menjadikannya bahan pembelajaran yang mendalam. Bahasa Arab dipilih karena kemampuannya menyampaikan pesan dengan kedalaman dan keluasannya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Imam al-Syaukaniy yang menyatakan bahwa mempelajari Ilmu al-Munâsabah adalah suatu kesia-siaan (lâ fâ’idata lah). Pernyataan ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui apakah Imam al-Syaukaniy menolak pemahaman al-Qur’an sebagai komunikasi yang menggunakan corak al-Munâsabah sepenuhnya dalam menyampaikan pesan-Nya. Al-Zarqâniy menjelaskan bahwa setidaknya ada 21 bahasan dalam ilmu terkait al-Qur’an, termasuk Tanâsub atau munâsabah ayat al-Qur’an, yang menyelidiki hubungan antar ayat-ayat dan surat dalam al-Qur’an. Konsep uslûb, yang berarti gaya atau metode komunikasi dalam bahasa Arab, merujuk pada cara pembicara menyampaikan pikiran dengan memilih kata-kata yang tepat. Munâsabah ayat, sebagai cabang ilmu al-Qur’an, memiliki peran penting dalam menjelaskan makna wahyu Allah dengan mengkaji keterkaitan antar ayat, baik dalam urutan maupun konteks surat. Menurut Ibn al-‘Arabiy, al-Munâsabah menjelaskan hubungan antar ayat yang menciptakan makna yang lebih luas dan terstruktur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis teks, yang bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pemikiran Imam al-Syaukaniy mengenai Munâsabah. Metode ini memungkinkan penulis untuk menelusuri konteks dan tujuan dari pernyataan Imam al-Syaukaniy, serta mengeksplorasi bagaimana ia memandang pentingnya tadabbur (perenungan mendalam) dalam memahami al-Qur’an, bukan hanya sekadar berdasarkan akal semata.
Copyrights © 2024