Tahun 2024 lalu publik dihebohkan dengan film dokumenter yang diberi judul Dirty Vote. Film ini menampilkan tiga narasumber yang secara terbuka menjelaskan bentuk dugaan kecurangan yang mewarnai Pemilihan Umum 2024. Tulisan ini menganalisis film Dirty Vote sebagai alat kritik terhadap praktik otoritarianisme elektoral di Indonesia. Tulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berpadu dengan semiotika John Fiske yang menggunakan tiga level makna yakni realitas, representasi dan ideologi yang dibalut dalam setiap dimensi otoritarianisme elektoral yakni pemilu sebagai hiasan, alat dan arena kontestasi. Hasil dari analisis menunjukkan jika film ini berhasil mengangkat fakta manipulasi struktural serta menampilkan visual dan naratif yang membongkar legitimasi semu pemilu. Sebagai produk media baru, Youtube menjadi medium efektif yang tidak hanya mendistribusikan kritik secara luas, tetapi juga membuka ruang partisipasi dan mobilisasi publik. Dengan demikian, eksistensi film dokumenter yang dipublikasikan melalui platform media baru seperti Youtube menjadi fasilitator signifikan bagi pembentukan kesadaran politik bagi masyarakat umum
Copyrights © 2025