Penelitian ini mengkaji pola representasi kebahasaan dalam film adisatria Indonesia Gundala (2019) dan Sri Asih (2022) untuk mengungkap bias Jawasentris dalam konstruksi identitas nasional. Meskipun berlatar Jakarta sebagai ruang multikultural, kedua film secara sistematis menggunakan unsur kebahasaan Jawa untuk momen-momen spiritual dan supernatural, sementara bahasa Indonesia Jakarta hanya digunakan untuk percakapan sehari-hari. Menggunakan kerangka ideologi bahasa Kathryn Woolard, konsep pasar bahasa Pierre Bourdieu, dan teori komunitas imajiner Benedict Anderson, penelitian ini menganalisis transkrip dialog dari 15 adegan terpilih dengan penanda waktu spesifik serta penggunaan aksara sebagai simbol bahasa. Temuan menunjukkan tiga pola krusial: pertama, hierarki sakral-profan yang memposisikan bahasa Jawa sebagai pembawa otoritas spiritual; kedua, disposesi budaya di mana Jakarta kehilangan identitas budayanya sendiri termasuk fenomena simulacrum autentisitas; ketiga, marjinalisasi sistematis keberagaman bahasa Indonesia melalui apropriasi tradisi non-Jawa ke dalam kategori dominan, termasuk mis-identifikasi aksara Sunda sebagai Jawa Kuno. Ketidakakuratan bahasa dan aksara dalam penggunaan unsur Jawa mengungkap bahwa representasi ini bersifat performatif untuk menciptakan efek mistis, bukan autentisitas budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media populer berpartisipasi dalam reproduksi hierarki budaya yang dapat memarjinalisasikan keberagaman dalam era demokratisasi.
Copyrights © 2025