Dalam tulisan ini, Penulis bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana estetika pertanggungjawaban (aesthetics of accountability) dan pendekatan lintas spesies (interspecies atau multispecies) dapat digunakan untuk merepresentasikan realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia melalui film. Pertama-tama, tulisan ini akan membahas bagaimana dua konsep tersebut dilahirkan dan berkembang dalam berbagai lapangan diskursus teori dan praktik, terutama antropologi visual dan perfilman nonfiksi, selama beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, tulisan ini akan menggunakan sebuah contoh penerapan estetika pertanggungjawaban dan pendekatan lintas spesies dalam merespons sebuah isu publik mengenai pertambangan nikel di sebuah wilayah pariwisata laut untuk menganalisis sejauh mana keterjangkauan (affordance) yang bisa ditawarkan oleh kedua konsep dalam merepresentasikan realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia. Sebagai kajian kasus, Penulis akan mendeskripsikan dan merefleksikan pengalaman menggunakan estetika pertanggungjawaban dan pendekatan lintas spesies dalam sebuah produksi dokumenter etnografis kolaboratif. Pada akhirnya, tulisan ini berkesimpulan bahwa dua konsep tersebut sangat relevan dengan dua hal: interseksionalitas dalam realitas-realitas sosial dari budaya-budaya di Indonesia dan potensi sinema untuk membentuk sekumpulan pengalaman audiovisual yang Penulis sebut sebagai sebuah kepulauan multiinderawi (a multisensory archipelago).
Copyrights © 2025