Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950) merupakan film monumental yang menempati posisi historis dan simbolik dalam konstruksi sinema nasional. Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana film tersebut merepresentasikan identitas nasional Indonesia yang sedang dibentuk dalam konteks pascakolonial, melalui pembacaan terhadap naratif dan representasi karakter. Menggunakan pendekatan teori pascakolonial, analisis ini memfokuskan diri pada bagaimana film memproduksi wacana nasionalisme dan membingkai relasi kuasa kolonial yang masih membayang dalam narasi identitas kebangsaan. Hasil penelitian ini nantinya menunjukkan bahwa Darah dan Doa berfungsi sebagai teks ideologis dalam merepresentasikan identitas nasional, sekaligus memperlihatkan kompleksitas representasi politik dan kultural dalam sinema pascakolonial Indonesia. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dampak dari kuasa kolonial tetap terlihat setelah masa kolonial fisik tersebut berakhir. Tak hanya itu, bahkan mempengaruhi wacana berpikir masyarakatnya ketika mereka ingin mengonstruksi diri mereka sendiri.
Copyrights © 2025