Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi yang besar dan ekonomi yang dinamis telah mengalami pembangunan infrastruktur yang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi yang signifikan, peningkatan urbanisasi, dan kebutuhan untuk meningkatkan mobilisasi antar wilayah menjadi pendorong utama pembangunan ini. Proyek-proyek infrastruktur berskala besar, seperti pembangunan jalan tol, jalan raya, pelabuhan, bandar udara, dan jaringan kereta api, telah mengubah lanskap ekonomi dan sosial Indonesia. Berkembangnya pembangunan Indonesia artinya meningkatnya juga kebutuhan beton. Hal yang diperhatikan adalah dampak yang dihasilkan oleh produksi salah satu bahan penyusun beton, yaitu semen. Produksi semen menyumbang sekitar 8% dari emisi CO2 global). Salah satu Inovasi yang dapat mengurangi emisi gas CO2 tersebut yakni dengan menggunakan campuran mineral sebagai bahan pengganti sebagian dari semen. Dalam Penelitian ini digunakan Ground Granulated Blast Furnace Slag 0%, 20%, dan 50% sebagai pengganti semen dengan FAS 0,35 dan serta penggunaan superplasticizier mutu beton disesuaikan pada hasil eksperimen dengan adanya variasi umur balok, setiap variasi terdapat 3 benda uji balok..Terdapat benda uji kontrol yakni balok tanpa menggunakan GGBFS dan superplasticizer untuk dibandingkan. Pada umur 28 hari dan 56 hari, dilakukan pengujian lentur pada benda uji balok. Berdasarkan pengujian kuat lentur beton didapatkan bahwa pada umur 28 dan 56 hari secara umum naik dan turun sampai dengan perentase GGBFS dalam komposisi campuran 20% dari berat semen. Untuk benda uji dengan persentase GGBFS 50% secara umum masih mengalami penurunan kuat lentur. Kekuatan lentur beton terkecil secara umum terjadi pada persentase GGBFS 50%. Kata Kunci : Ground Granulated Blast Furnaced Slag, Supeplasticizer, Kuat Lentur, Umur
Copyrights © 2025