The interpretation of Surah Al-Qadr has sparked significant debate among Muslim scholars, particularly regarding the nature of Lailatul Qadr and the process of the Quran’s revelation. This study addresses these crucial issues by comparing the exegetical approaches of two renowned rational interpreters (bil ra’yi): Al-Zamakhsyari, author of Tafsir al-Kasyisaf, and Al-Maragi, author of Tafsir al-Maragi. The research aims to identify similarities and differences in their interpretations of Surah Al-Qadr, focusing on key concepts such as the descent of the Quran, the excellence of Lailatul Qadr, and the meaning of “a thousand months.” Employing a qualitative library research method with a comparative (muqarin) approach, the study analyzes each verse of the surah through the lenses of both mufassirs. The findings reveal that while both agree on the supreme virtue of Lailatul Qadr and the inability of human knowledge to fully comprehend it, they differ fundamentally: Al-Zamakhsyari interprets the first verse as the Quran’s initial descent from the Preserved Tablet to the lowest heaven, whereas Al-Maragi views it as the beginning of revelation to Prophet Muhammad. Additionally, Al-Maragi interprets “a thousand months” symbolically rather than literally. The study concludes that contextual and theological backgrounds significantly shape exegetical outcomes and recommends further comparative studies across different tafsir schools. Penafsiran Surah Al-Qadr telah memicu perdebatan signifikan di kalangan ulama Muslim, terutama terkait hakikat Lailatul Qadar dan proses turunnya Al-Qur’an. Studi ini membahas isu krusial tersebut dengan membandingkan pendekatan eksegetis dua mufasir rasional (bil ra’yi) terkemuka: Al-Zamakhsyari, pengarang Tafsir al-Kasyisaf, dan Al-Maragi, pengarang Tafsir al-Maragi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan penafsiran mereka terhadap Surah Al-Qadr, dengan fokus pada konsep turunnya Al-Qur’an, keutamaan Lailatul Qadar, dan makna “seribu bulan.” Menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan komparatif (muqarin), penelitian ini menganalisis setiap ayat dalam surah tersebut melalui perspektif kedua mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun keduanya sepakat tentang keutamaan agung Lailatul Qadar dan keterbatasan pengetahuan manusia untuk memahaminya secara utuh, mereka berbeda secara fundamental: Al-Zamakhsyari menafsirkan ayat pertama sebagai penurunan awal Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia, sementara Al-Maragi memandangnya sebagai awal pewahyuan kepada Nabi Muhammad. Selain itu, Al-Maragi menafsirkan “seribu bulan” secara simbolis而非 literal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa latar belakang kontekstual dan teologis sangat mempengaruhi hasil penafsiran dan merekomendasikan studi komparatif lebih lanjut antar berbagai mazhab tafsir.
Copyrights © 2004