The resilience of Rural Banks (BPR) during the monetary crisis contrasts with persistent managerial weaknesses and information asymmetry among stakeholders due to confidential bank ratings. This study aims to identify the most dominant financial factor determining the health level of BPRs. Analyzing 55 BPRs in Bank Indonesia Jember’s working area for 2001-2002 using a census method, multiple regression with beta coefficients was applied to assess variables including CAR, KAP, PPAP/PPAPWD, ROA, BOPO, QR, and LDR. The findings reveal that the KAP (Quality of Productive Assets) variable exerts the most dominant influence, with a beta coefficient of -0.577, followed by ROA and BOPO. The regression model explains 31.7% of the variability in BPR health levels. This study concludes that KAP is the primary determinant, supporting BI's high weighting for this ratio, while recommending that managers also consider other significant factors like ROA and BOPO. Ketahanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) saat krisis moneter bertolak belakang dengan kelemahan manajerial dan asimetri informasi bagi pemangku kepentingan akibat rahasianya peringkat kesehatan bank. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor finansial paling dominan yang menentukan tingkat kesehatan BPR. Dengan populasi 55 BPR di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Jember periode 2001-2002 menggunakan metode sensus, analisis regresi berganda dengan koefisien beta diterapkan pada variabel CAR, KAP, PPAP/PPAPWD, ROA, BOPO, QR, dan LDR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Kualitas Aktiva Produktif (KAP) memiliki pengaruh paling dominan dengan koefisien beta -0,577, diikuti ROA dan BOPO. Model regresi mampu menjelaskan 31,7% variabilitas tingkat kesehatan BPR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa KAP merupakan penentu utama, mendukung pembobotan tinggi BI pada rasio tersebut, serta merekomendasikan manajemen untuk mempertimbangkan faktor signifikan lainnya seperti ROA dan BOPO.
Copyrights © 2004