Dalam perkembangan manusia, remaja memiliki karakterisitik tertentu di mana salah satunya remaja dapat mengungkapkan argumentasi mereka yang merupakan ekspresi dari kemampuan penalaran verbal yang dimiliki oleh remaja. Tidak jarang pula remaja melakukan pemberontakan hingga dapat memunculkan perilaku agresi. Seorang anak dapat berperilaku agresi sebagai respons untuk melindungi diri terhadap suatu provokasi atau kesulitan tertentu yang disertai dengan perasaan marah atau melakukannya karena bertujuan untuk sengaja menyakiti orang lain untuk mendapatkan suatu objek, mengintimidasi, atau mendominasi orang lain. Agresi dapat terjadi di berbagai tempat dan di berbagai keadaan. Tidak jarang tindak agresi remaja membuat mereka berakhir masuk ke dalam LPKA. Oleh sebab itu, group art therapy dilakukan pada penelitian ini sebagai upaya dalam menurunkan perilaku agresi pada remaja di LPKA Tangerang. Penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test dimana partisipan diberikan tes draw a person, tes BAUM, dan Wartegg Zeichen Test, untuk mengetahui perbandingan perilaku agresif sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Group art therapy dalam penelitian ini diberikan sebanyak 8 sesi yang dilakukan selama 60 menit setiap sesi. Terlihat keenam partisipan menunjukkan penurunan perilaku agresi. Perubahan dapat dilihat dari selama proses inervensi berlangsung dan hasil post-test. Berdasarkan hasil yang didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa group art therapy dapat digunakan untuk menurunkan perilaku agresi pada remaja di LPKA Tangerang.
Copyrights © 2023