This research discusses NU elders, politics, and the civil society development agenda in Pasuruan. Giddens' theory (1984) on structuration is used as a starting point to develop the main themes relevant to the data. The purpose of this research is to understand the dialectical complexity between structure and agency, which positions the elders (agents) as creative individuals with transformative capacity to produce and reproduce structures that, on one hand, have a limiting-disabling tendency and, on the other, enable action. All of this is carried out by the elders in their position as religious elites to develop civil society. This theme is interesting because many NU elders are directly or indirectly involved in the political landscape of Indonesia. However, from the organizational side, NU, as an organization for the elders, has declared khittah as its struggle paradigm. Penelitian ini membahas tentang kyai NU, politik, dan agenda pengembangan masyarakat sipil di Pasuruan. Teori Giddens (1984) tentang strukturasi digunakan sebagai titik tolak untuk mengembangkan tema-tema utama yang relevan dengan data. Tujuan penelitian ini adalah memahami kompleksitas dialektika antara struktur dan keagenan yang menempatkan kyai (agen) sebagai individu kreatif dengan kapasitas transformatif untuk memproduksi dan mereproduksi struktur yang di satu sisi memiliki kecenderungan membatasi (limiting-disabling) dan di sisi lain memungkinkan tindakan (enabling). Semua itu dilakukan oleh kyai dalam posisinya sebagai elit agama untuk mengembangkan masyarakat sipil. Tema ini menjadi menarik karena banyak kyai NU yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam peta politik di Indonesia. Namun, di sisi organisasi, NU sebagai wadah kyai telah menetapkan khittah sebagai paradigma perjuangan.
Copyrights © 2010