Ketergantungan fiskal daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat masih menjadi isu krusial dalam kerangka desentralisasi di Indonesia. Ketergantungan yang tinggi ini mencerminkan keterbatasan kapasitas fiskal daerah dalam menggali potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta berimplikasi pada rendahnya kemandirian fiskal. Oleh karena itu, diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk memahami tantangan dan implikasi dari fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan, implikasi, serta strategi penguatan kapasitas fiskal daerah dalam mengurangi ketergantungan pada transfer pusat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis deskriptif-komparatif. Data diperoleh melalui telaah kebijakan fiskal, laporan keuangan daerah, serta publikasi akademik terkait desentralisasi fiskal. Analisis dilakukan dengan membandingkan pola ketergantungan fiskal pada daerah dengan tingkat kemandirian yang berbeda untuk menemukan pola umum dan strategi alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan fiskal yang berlebihan melemahkan insentif daerah dalam menggali potensi PAD, menciptakan ketidakseimbangan fiskal antarwilayah, serta menimbulkan risiko moral hazard. Namun, transfer pusat tetap berperan penting dalam menjamin pemerataan pembangunan dan penyediaan layanan publik dasar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi penguatan kemandirian fiskal dapat dilakukan melalui diversifikasi pendapatan, reformasi tata kelola fiskal, peningkatan kapasitas aparatur, serta inovasi kebijakan fiskal lokal. Implikasi penelitian ini menekankan bahwa penguatan kapasitas fiskal daerah bukan hanya menjadi kebutuhan teknis, melainkan juga strategi pembangunan berkelanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada transfer pusat, daerah diharapkan mampu memperkuat kemandirian fiskal dan meningkatkan kualitas pembangunan secara lebih merata.
Copyrights © 2025