Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih stagnan pada kisaran 53–55% selama lebih dari dua dekade, meskipun perekonomian menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Pemanfaatan modal manusia yang belum optimal inilah yang mendorong penelitian ini untuk menelaah faktor-faktor utama pada tingkat mikro yang memengaruhi keputusan perempuan untuk berpartisipasi dalam pasar kerja. Dengan menggunakan data 12.457 perempuan usia kerja dari Indonesia Family Life Survey gelombang kelima (IFLS 5), penelitian ini menggunakan model regresi logistik guna menganalisis pengaruh karakteristik di tingkat mikro (individu maupun rumah tangga). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan tinggi merupakan faktor paling berpengaruh karena secara signifikan meningkatkan peluang perempuan untuk bekerja, sejalan dengan teori modal manusia (human capital theory). Sebaliknya, status perkawinan, pengalaman melahirkan (sering disebut sebagai child penalty), serta ukuran rumah tangga yang besar justru menjadi kendala utama, menandakan kuatnya beban tanggung jawab domestik yang dipikul perempuan. Temuan penting lainnya adalah adanya hubungan negatif antara domisili di perkotaan dengan peluang bekerja. Hal ini mengindikasikan adanya hambatan di pasar tenaga kerja perkotaan yang berbeda dengan di pedesaan. Temuan tersebut menegaskan perlunya pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif. Intervensi strategis sebaiknya difokuskan pada perluasan akses pendidikan bagi perempuan, penyediaan layanan penitipan anak yang terjangkau, pengembangan pola kerja yang lebih fleksibel, serta penanganan tantangan yang dihadapi perempuan yang tinggal di perkotaan.Kata kunci: Partisipasi Tenaga kerja Perempuan, Modal Manusia, Model Logistik
Copyrights © 2025