ABSTRAK Destinasi wisata berbasis wellness tourism dirancang sebagai objek tugas akhir ini sebagai respon atas ketimpangan distribusi pariwisata di Bali. Pertumbuhan pariwisata seperti ini cenderung terkonsentrasi di wilayah dengan konsentrasi turis tinggi seperti di daerah Selatan seperti Kuta, Seminyak, dan Uluwatu. Kondisi ini menyebabkan wilayah Bali Utara, khususnya Buleleng, belum berkembang optimal sebagai tujuan wisata alternatif meskipun memiliki banyak potensi alam dan budaya yang kuat. Melalui pendekatan kontekstual, perancangan ini didesain untuk membawa nilai-nilai filosofis Bali yang dibawa pada konsep tapak, spasial bangunan, sampai kepada desain interior untuk menciptakan ruang penyembuhan yang harmonis dengan lingkungan. Pusat wellness retreat center dirancang sebagai upaya untuk melestarikan konsep slow tourism di Bali Utara, dengan harapan hasil desain mampu menjawab kebutuhan akan destinasi wellness yang tidak hanya fungsional dan estetis, namun juga mendukung pemerataan pembangunan wisata di Bali Utara. Dirancang pada sepetak tanah seluas 13.000 m2 di kota Singaraja, Kabupaten Buleleng. Area rancangan wellness retreat ini memiliki dua fungsi utama, yakni fungsi perawatan dan fungsi kebugaran, sementara itu fungsi pendukungnya antara lain fungsi restoran dan fungsi penginapan. Setiap fungsi memiliki areanya masing-masing yang disusun sedemikian rupa mengikuti nilai lokal budaya yang masih dianut masyarakat setempat untuk menghormati lokasi objek didirikan. Kata kunci: wellness retreat, arsitektur kontekstual, Bali Utara ABSTRACT A wellness tourism destination was chosen as the focus of this final project to adress the unequeal distribution of tourism in Bali. Currently, tourism growth is heavily concentrated in high-traffic areas in the South such as Kuta, Seminyak, or Uluwatu. This has left North Bali, particularly Buleleng, underdeveloped as an alternative tourist destination despite its rich natural and cultural potention. Using a contextual approach, the design intigrates Balinese philosopical values into the site, building spatial layout, and interior design to create a healing space that is in harmony with its environment. This wellness retreat center is intended to preserve the concept of slow tourism in North Bali. The design is expected to not only be functional and aesthetic but also to support the equitable development of tourism in the region. This wellness retreat center is designed on a 13.000 m2 plot of land in the city of Singaraja, Buleleng. It has two main functions: treatment and fitness, with supporting functions including a restaurant and accomodation. Each functions has its own area, arranged to reflect the local cultural values that is still practiced by the community, in a respectful nod to the site’s location Keyword: wellness retreat, contextual architecture, North Bali
Copyrights © 2025