Rumah modular prefabrikasi dapat menjadi salah satu alternatif sebagai solusi penyediaan rumah yang cepat, terjangkau, dan berkualitas, namun penerapannya di Indonesia khususnya pada iklim tropis lembap, menghadapi tantangan terkait kinerja termal. Penggunaan material tipis seperti baja dan sandwich panel yang mengandung material konduktor berpotensi meningkatkan panas dalam ruang dan mengganggu kenyamanan termal. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kelembapan, intensitas radiasi matahari, serta tren kenaikan suhu udara akibat perubahan iklim. Minimnya kajian ilmiah mengenai performa termal rumah modular di Indonesia menjadi dasar dilakukannya penelitian ini untuk mengevaluasi kinerja termal rumah modular prefabrikasi pada iklim tropis lembap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui pengukuran suhu udara, kelembapan udara, dan suhu permukaan dinding selama tiga hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mobox dan WG Flatpack mampu menurunkan suhu ruang hingga 0,3°C–4,6°C, namun sebagian besar data belum mencapai kenyamanan termal. Mobox menunjukkan kinerja termal lebih baik dibanding WG Flatpack, dipengaruhi oleh aspek desain, sifat material, dan pembayangan meskipun keduanya masih memerlukan optimalisasi untuk menghasilkan kinerja termal yang lebih baik. Kata kunci: kinerja termal, rumah modular, iklim tropis lembap
Copyrights © 2025