Surabaya, sebagai kota pelabuhan historis dalam jalur perdagangan rempah Nusantara, mengalami keterputusan kultural akibat modernisasi. Penelitian ini merancang ruang publik edukatif berbasis rempah dengan pendekatan multisensori, mengintegrasikan desain waterfront dan elemen olfaktori untuk mengoptimalkan pengalaman inderawi, khususnya penciuman. Melalui observasi tapak, studi literatur, dan eksperimen desain, dihasilkan lima zona tematik yang memanfaatkan angin laut untuk menyebarkan aroma rempah secara alami. Penelitian ini memberikan sumbangan dalam wacana arsitektur olfaktori dengan menawarkan strategi desain ruang publik yang mengaitkan kembali warisan budaya rempah dengan pengalaman spasial sebagai sarana pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal.
Copyrights © 2025