Adaptive reuse merupakan pendekatan pemanfaatan kembali bangunan lama secara berkelanjutan, didorong oleh keusangan bangunan baik dari segi usia maupun relevansi fungsi. Salah satu bentuk keusangan tersebut muncul akibat perubahan pola kerja seperti work from home, yang mengurangi kebutuhan ruang kantor fisik. Menara Cakrawala di Jakarta mengalami kondisi serupa dan berpotensi dikonversi menjadi hunian bagi kalangan menengah yang kesulitan mengakses hunian layak di pusat kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan strategi studi kasus, menganalisis potensi adaptasi Menara Cakrawala sebagai hunian. Analisis dilakukan melalui pendekatan User–Place–System, teori Shearing Layers, standar Time-Saver for Housing, preferensi pengguna kelas menengah, serta strategi adaptasi menurut Sally Stone. Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik pengguna membutuhkan hunian yang strategis, efisien, dan terjangkau; lokasi bangunan memiliki konektivitas tinggi; serta sistem bangunan menunjukkan tingkat adaptabilitas flexible pada lima lapisan (site, skin, services, space plan, stuff). Rekomendasi akhir berupa konversi sebagian gedung menjadi 184 unit hunian (124 co-living, 60 1-bedroom) dengan fasilitas penunjang dan sebagian area komersial tetap dipertahankan. Pendekatan ini menunjukkan potensi adaptive reuse sebagai solusi hunian layak dan berkelanjutan di Jakarta. Kata kunci: adaptive reuse, hunian, kalangan menengah
Copyrights © 2025