Kabupaten Malang memiliki potensi seni dan budaya yang tinggi dengan setidaknya 92 jenis kesenian tradisional, seperti ludruk, tari beskalan, dan wayang. Namun, keterbatasan fasilitas serta kurang optimalnya pembinaan seniman menjadi kendala utama dalam pengembangan sektor budaya, khususnya di Kepanjen yang merupakan ibu kota Kabupaten Malang. Guna menjawab tantangan tersebut, direncanakan pembangunan pusat kebudayaan yang dapat menjadi ruang ekspresi, edukasi, dan interaksi seni. Dalam perancangannya, isu akustik menjadi perhatian penting mengingat bangunan akan digunakan untuk berbagai jenis pertunjukan seperti tari, musik, dan teater. Oleh karena itu, pendekatan fleksibel akustik diterapkan untuk menciptakan ruang yang mampu menyesuaikan karakter suara secara dinamis. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan lingkungan akustik yang optimal, mendukung fungsi bangunan secara menyeluruh, serta memperkuat peran Kepanjen sebagai ikon pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Malang. Kata kunci: pusat kebudayaan, akustik fleksibel, Kepanjen, seni tradisional.
Copyrights © 2025