Studi ini membandingkan strategi manajemen lalu lintas yang diterapkan di kota Surabaya dan Kuala Lumpur, dengan fokus pada tiga aspek utama: pendekatan kebijakan, pemanfaatan teknologi, dan partisipasi publik. Melalui analisis data statistik, tinjauan pustaka, dan studi kasus, ditemukan bahwa Kuala Lumpur menunjukkan kemajuan signifikan dalam penerapan sistem transportasi cerdas (Intelligent Transport Systems/ITS). Sebaliknya, Surabaya masih mengandalkan pendekatan rekayasa lalu lintas konvensional. Perbandingan ini mengindikasikan bahwa integrasi teknologi dan kebijakan berbasis data dapat meningkatkan efisiensi dan ketahanan sistem transportasi urban secara signifikan. Selain itu, partisipasi publik dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan transportasi terbukti menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi strategi di Kuala Lumpur.
Copyrights © 2025