Industri pengolahan sawit mikro-skala kerap terabaikan dalam kajian jejak karbon, padahal praktik operasionalnya berpotensi memunculkan emisi tinggi dari pengelolaan POME dan sistem uap sederhana. Penelitian ini melakukan penilaian daur hidup (LCA) beracuan ISO 14040/14044 dengan unit fungsional 1 ton CPO (cradle-to-gate), menggabungkan data primer operasi pabrik mikro dan data sekunder (IPCC 2019, inventori LCI) untuk memetakan titik kendali emisi dan mengevaluasi opsi dekarbonisasi yang layak. Hasil menunjukkan intensitas emisi baseline sekitar ~900 kg CO₂e/ton CPO (P5–P95: 760–1080), dengan kontribusi dominan POME anaerob terbuka (~52%) dan ketel/uap (~27%). Analisis sensitivitas mengidentifikasi MCF POME (elastisitas 0,52) dan efisiensi ketel (0,31) sebagai pendorong utama variasi. Skenario kolam tertutup + CHP biogas menurunkan emisi hingga ~360 kg CO₂e/ton, sementara retrofit ketel (economizer/kontrol O₂) dan optimasi logistik TBS termasuk opsi biaya negatif. Paket terintegrasi CHP biogas + retrofit ketel + optimasi rute menurunkan emisi hingga ~49% dari baseline. Kurva biaya marjinal (MACC) memprioritaskan tindakan operasional berbiaya rendah/negatif lebih dulu, diikuti investasi menengah untuk memaksimalkan pengurangan emisi. Temuan ini memberikan peta jalan dekarbonisasi bertahap yang praktis dan ekonomis bagi UMKM sawit, sekaligus menyoroti kebutuhan pemantauan parameter kunci POME dan efisiensi ketel guna memastikan kinerja emisi yang robust di lapangan.
Copyrights © 2024