Teknologi blockchain telah muncul sebagai kekuatan transformatif dalam keamanan digital, menyediakan sistem terdesentralisasi dan aman untuk transaksi cryptocurrency, kontrak pintar, serta integritas data. Namun, hadirnya komputasi kuantum menimbulkan tantangan signifikan terhadap fondasi kriptografi blockchain. Mekanisme enkripsi klasik, termasuk RSA dan elliptic curve cryptography (ECC), rentan terhadap algoritma kuantum seperti Shor’s Algorithm, yang mampu memecahkan enkripsi kunci publik, dan Grover’s Algorithm, yang dapat melemahkan fungsi hash. Studi ini bertujuan untuk menilai dampak komputasi kuantum terhadap keamanan blockchain, membandingkan metode kriptografi klasik dengan metode pasca-kuantum, serta mengeksplorasi solusi untuk sistem blockchain yang tahan kuantum. Kami menggunakan kerangka analisis komparatif dengan mengevaluasi algoritma kriptografi klasik terhadap alternatif kriptografi tahan kuantum, seperti kriptografi berbasis kisi (lattice-based cryptography), algoritma berbasis hash (SPHINCS+), dan enkripsi berbasis kode. Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun komputasi kuantum mengancam keamanan blockchain saat ini, metode kriptografi tahan kuantum dapat mengurangi risiko tersebut. Transisi menuju kriptografi pasca-kuantum sangat penting untuk mengamankan implementasi blockchain di masa depan, meskipun langkah ini menghadirkan tantangan dalam bentuk beban komputasi tambahan dan kebutuhan pembaruan jaringan. Studi ini menyimpulkan bahwa adopsi proaktif terhadap protokol tahan kuantum diperlukan untuk memastikan keberlangsungan jangka panjang teknologi blockchain di era pasca-kuantum
Copyrights © 2025